Friday, May 27, 2011

Proyek Pembuatan Hutan Di Gurun Sahara

Pada tahun 2008, sebuah proposal Sahara Forest Project, sebuah solusi berkesinambungan luar biasa bagi kelangkaan sumber daya yang akan mengubah padang gurun Sahara menjadi sumber makanan, air, dan energi. Norwegia dan Yordania baru-baru ini menanda tangani kesepakatan untuk pengembangan sistem perintis Sahara Forest Project di sejengkal lahan di kawasan pantai di Yordania. Kelompok ini juga akan melakukan sejumlah penelitian di Yordania, dengan dukungan finansial dari otoritas Norwegia

[Image: 678f6bc5635188a7ec4c54c4862ad719.jpg]

Lokasi ujicoba yang dipilih adalah lahan seluas 200 ribu meter persegi di Aqaba, sebuah kota pesisir di selatan Yordania, dekat dengan pantai Laut Merah. Perjanjian ini juga mengamankan sebuah lahan tambahan seluas 2 juta meter persegi untuk ekspansi berikutnya. Sahara Forest Project menggabungkan Concentrated Solar Power (CSP) dan rumah kaca air laut untuk menyediakan energi terbaharui dan solusi agrikultural berkesinambungan dalam jumlah besar, pada dasarnya mengubah salah satu lingkungan paling tidak ramah menjadi oasis yang subur

[Image: b6d8a9a537e3ca11de128d51c815601d.jpg]

Rumah kaca air laut menggunakan tenaga surya untuk mengubah air laut menjadi air segar yang kemudian digunakan untuk menyirami sayuran dan ganggang segar (untuk menyerap CO2). CSP menyediakan energi untuk menghidupkan seluruh operasi. CSP menggunakan ribuan cermin untuk mengarahkan cahaya matahari ke sebuah pemanas air, memanaskannya sampai suhu 1000 Fahrenheit lebih. Pemanas ini memproduksi uap, yang menggerakkan sebuah turbin untuk menciptakan energi

[Image: 35ce66ebdfc2c99aa22843976d9f4b17.jpg]

Sahara Forest Project diciptakan oleh arsitek biomimikri Michael Pawlyn, desainer rumah kaca air laut Charlie Paton, dan insinyur struktur Bill Watts. Pada tahun 2009, trio ini bergabung dengan Bellona, sebuah NGO lingkungan internasional yang berbasis di Norwegia, dan mempresentasikan proposal mereka di COP15 pada bulan Desember 2009. Umpan balik positif membawa lebih banyak presentasi, termasuk satu presentasi di Oslo Juni tahun lalu, dihadiri oleh Yang Mulia Raja Abdullah II dari Yordania. Raja begitu terkesan dengan proyek ini sampai dia mengundang tim SFP ke Yordania pada bulan Oktober untuk mendiskusikan studi kelayakan yang membuka pintu untuk kesepakatan ini
[Image: f60b0daf6ea1f91d7a5fbc9d32cf26db.jpg]
Tim SFP akan melakukan penelitian mendalam tahun ini dan mengembangkan sebuah pusat demonstrasi pada tahun 2012. Pengembangan komersil mungkin akan dimulai pada tahun 2015. Menurut tim ini, fasilitas-fasilitas seperti di Aqaba memiliki potensi yang besar yang menguntungkan lingkungan. Mereka bisa mengurangi masalah kekurangan makanan dan air, menghasilkan biofuel tanpa bersaing dengan produksi pangan, dan berkontribusi untuk usaha penghijauan di area-area padang gurun. Ditambah produksi tumbuh-tumbuhan akan menyerap karbon dioksida dan mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfir.


Sumber :
ceriwis.us

Minuman Keras Buatan Asli Indonesia

Cap Tikus & Sagoer

[Image: captikus.jpg]

Cap Tikus merupakan minuman keras dari Manado hasil penyulingan Sagoer. Sagoer sendiri adalah cairan yang disadap dari pohon enau dan mengandung sedikit kadar alkohol sekitar 5%. Setelah disuling dengan cara tradisional, minuman khas Minahasa ini menjadi pendorong kerja untuk kalangan petani. Namun saat ini Cap Tikus lebih menjadi sarana pelampiasan dan mabuk-mabukan. Begitu berbahayanya minuman ini hingga orang-orang tua mengingatkan agar bisa menahan atau mengontrol minum minuman Cap Tikus. Sejak dulu pula dikenal pameo menyangkut Cap Tikus, minum satu seloki Cap Tikus, cukup untuk menambah darah, dua seloki bisa masuk penjara, dan minum tiga seloki bakal ke neraka.

Tuak
[Image: tuak-150x150.jpg]

Tuak merupakan minuman keras khas Indonesia hasil fermentasi dari bermacam buah. Bahan-bahan tuak biasanya beras atau cairan yang diambil dari tanaman seperti nira kelapa atau aren, legen dari pohon siwalan atau tal, atau sumber lain. Di daerah Batak tuak dibuat dari pohon aren yang mirip pohon kelapa maka sering disebut bir panjat. Bar-bar tradisional yang menyediakan tuak disebut lapo tuak. Sebenarnya tuak tersebar di begitu banyak daerah di Indonesia sehingga sering disebut dengan nama-nama lain, namun tuak di sini mengacu pada minuman hasil fermentasi dari buah yang manis. Sama seperti temannya dari Manado tuak juga sangat memabukkan dengan kadar alkohol yang lebih ringan. Di salah satu lapo tuak tertulis Segelas tuak penambah darah. 2 gelas, lancar bicara. 3 gelas, mulai tertawa-tawa. 4 gelas, mencari gara-gara. 5 gelas, hati membara. 6 gelas, membuat perkara. 7 gelas, semakin menggila. 8 gelas, membuat sengsara. 9 gelas, masuk penjara dan 10 gelas, masuk neraka.

Arak Bali
[Image: arakbali-150x150.jpg]

Mirip dengan tuak, arak bali merupakan minuman keras hasil fermentasi dari sari kelapa dan buah-buahan lain. Kadar alkoholnya 37-50%. Arak ini dari namanya saja sudah jelas berasal dari Bali dan sering digunakan dalam upacara-upacara adat. Dalam upacara menghormati para dewata arak akan dituangkan ke daun pisang yang sudah dibentuk seperti tangkup dan kemudian arak akan dicpiratkan tangan kanan dengan bantuan sebuah bunga. Arak-arak untuk upacara biasanya mutu terendah karena arak terbaik akan diminum. Arak ini cukup populer juga di kalangan wisatawan di Bali dan salah satu resep cocktail yang terkenal adalah “arak attack” yaitu campuran Arak Bali dan orange juice. Meskipun banyak turis mancanegara tidak akan terkesan dengan rasa arak dibanding minuman keras dunia lainnya namun keberadaan Arak Bali jelas membantu seorang asing menikmati liburannya dan mempromosikan pulau dewata.

Sopi
[Image: Sopi.jpg]

Sopi adalah minuman keras asal Maluku yang dilarang di sana namun sudah sangat populer dan mendarah daging. Sopi sendiri merupakan fermentasi dari pohon aren (jadi masih bersaudara dengan minuman keras Indonesia lainnya) dan memiliki kadar alkohol diatas 50%. Pembuatan Sopi yang menghasilkan rasa khasnya adalah penambahan bubuk akar Husor dan penggunaan bambu untuk penyulingan. Para pembuat Sopi tradisional meskipun terlarang sangatlah makmur sampai bisa menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke bangku kuliah maka ada sebutan di Maluku sudah ada orang yang menjadi profesor-profesor karena Sopi ini. Ada yang bilang rasa Sopi mirip Vodka.

Lapen
[Image: lapen-150x150.jpg]

Nah minuman keras asal Yogyakarta ini reputasinya sungguh buruk. Coba saja Anda cari di google mengenai minuman ini, halaman awal akan didominasi kisah-kisah tragis penegak lapen, dari kebutaan, kelumpuhan, sampai kematian massal. Namanya pun sudah cukup sangar Lapen merupakan singkatan dari “langsung pening”. Memang cara pembuatannyapun akan membuat kita geleng kepala. Alkohol 98,5% dicampur 15 liter air mineral ditambah gula dan pemanis lainnya, didiamkan 12 jam siap untuk dikonsumsi. Anda yang jeli akan bertanya alkohol apa yang dipakai? Disitulah masalahnya karena tidak jelas maka minuman ini sering terkontaminasi Methanol yang sangat beracun (bahan kosmetik, pembersih, dll) yang akan menjadi asam di dalam tubuh dan menyerang sistem saraf terutama saraf mata. Lebih parahnya lagi di Yogyakarta para pemuda yang hilang arah sering adu keberanian dengan mencampur Lapen dengan berbagai cairan lain untuk memperkuat rasanya, dan yang kami maksud cairan bukan hanya cairan minuman tapi bisa karbol, formalin, dan bahan kimia apapun yang bisa Anda pikirkan. Tidak heran halaman demi halaman pencarian google untuk “Lapen” dihiasi obituari dan berita pengerebekan polisi.

Ciu
Ciu merupakan sebuah nama sebutan untuk minuman keras khas dari daerah Banyumas dan Bekonang, Sukoharjo. Meskipun mungkin ada hubungannya tapi tidak sama dengan Ang Ciu atau arak merah Cina. Di Banyumas Ciu merupakan hasil fermentasi dari beras dengan kadar alkohol mencapai 50-90%. Di tempat ini Ciu illegal dan dengan aktif diberantas oleh pemerintah daerahnya. Di Bekonang di lain pihak, pembuatan Ciu ini didukung oleh pemerintah daerahnya, sehingga menjadi sangat populer dan dipasarkan ke seluruh Karesidenan Surakarta, Surabaya hingga Madura. Pada jaman dahulu setiap ada hajatan malamnya pasti diikuti dengan acara mabuk “Ciu Bekonang”. Ciu ini pembuatannya menggunakan tape dan ketan sehingga hasil fermentasi dari singkong tidak seperti saudaranya di banyumas. Kedua Ciu tidak berwarna, bening dan rasanya sangat kuat.

Anggur Orang Tua, Bir Bintang, Anker Beer dan Minuman Keras Lokal Lainnya

[Image: orangtua-150x150.jpg]


Meskipun masih menjadi polemik dan perdebatan di kalangan rohaniawan, minuman keras produksi skala besar telah menjadi bisnis yang sangat besar. Lihat saja grup orang tua yang dari anggur kolesomnya bisa merambah hingga ke bisnis makanan lain. Bir produksi dalam negeri (yang rasanya kalah jauh dengan bir luar negeri) juga populer di kalangan masyarakat kecil. Minuman-minuman itu ada di daftar ini hanya karena mereka dibuat di Indonesia meskipun kecil nilai tradisinya.

Source: http://www.eocommunity.com/showthread.php?tid=13386

Friday, May 13, 2011

Budaya Terlambat Orang Indonesia. Mengapa bisa terjadi demikian ???

Sebagian besar penutur bahasa Inggris membayangkan kalau hidup berjalan secara lurus, lahir di kiri, sekarang di tengah, dan meninggal di kanan. Berjalannya waktu ditandai dengan bergeraknya kita dari kiri ke kanan hingga akhirnya mencapai ujung, yaitu meninggal. Masa lalu adalah jalan yang kita lewati di belakang kita dan masa depan adalah jalan lurus yang akan kita tempuh di depan.


http://www.faktailmiah.com/wp-content/uploads/2011/05/persepsi-aktor.jpg

Sebaliknya pembicara Mandarin membayangkan waktu berjalan secara vertikal. Lahir di puncak dan wafat di dasar. Jadi sesuatu yang telah terjadi ada di atas, sesuatu di masa depan ada di bawah. Bagaimana dengan orang Arab? Mereka membayangkan waktu berjalan dari kanan ke kiri.

Perbedaan ini ternyata berhubungan dengan cara menulis. Tulisan latin bergerak dari kiri ke kanan, tulisan Mandarin dari atas ke bawah dan Arab dari kanan ke kiri. Inilah salah satu bukti kalau bahasa mempengaruhi persepsi waktu kita.

Sekarang yang lebih aneh lagi: para ilmuan di Stanford melakukan eksperimen meminta para penutur Mandarin menyusun benda secara horizontal dalam urutan tertentu, dan bertanya tentang pertanyaan berbasis waktu kepada mereka, seperti “Apakah bulan April sebelum atau sesudah Maret?”


http://www.faktailmiah.com/wp-content/uploads/2011/05/persepsi-kalender.jpg



Permintaan untuk menyuruh mereka berpikir horizontal dengan teka-teki benda membuat mereka lebih sulit menjawab pertanyaan berbasis waktu. Ketika penutur Inggris menyusun teka-teki secara vertikal, mereka juga kesulitan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kronologi. Dengan kata lain: membuat mereka berpikir dalam arah fisik yang berbeda, membuatnya sulit berpikir mengenai waktu.

Nah, yang lebih aneh lagi adalah orang Indonesia. Bahasa Indonesia tidak mengenal tensis sama sekali. Jadi kalau orang Inggris bilang “Mel Gibson shot my dad,” “Mel Gibson is shooting my dad,” dan “Mel Gibson is about to shoot my dad,” bahasa Indonesia hanya menerjemahkannya menjadi “Mel Gibson menembah ayah saya.” Tentu kita punya kata bantu seperti “Mel Gibson akan menembak ayah saya,” “Mel Gibson sedang menembak ayah saya,” dan “Mel Gibson sudah menembak ayah saya,” tapi kata bantu ini tidak alamiah. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak atau jarang memakainya. Sebaliknya, penutur Inggris selalu menggunakan tenses (past, present dan future).

Dalam sebuah eksperimen, penutur bahasa Indonesia diminta menjelaskan tiga potret orang yang mendekati bola, menendang bola dan melihat bola melayang. Orang Indonesia memakai kata yang sama : “Orang menendang bola” sementara penutur bahasa Inggris dapat membedakannya menjadi “Orang akan menendang bola,” “orang sedang menendang bola,” dan “orang sudah menendang bola.”


http://www.faktailmiah.com/wp-content/uploads/2011/05/persepsi-tensis.jpg


Orang Indonesia tidak dapat membedakan ketiga potret sementara orang Inggris mudah. Hal ini karena bahasa Indonesia tidak meminta mereka menyatakan urutan waktu, mereka cenderung tidak menyadarinya. Bahasa mengendalikan pola pikir orang Indonesia.

Bagaimana hal ini mempengaruhi keseharian orang Indonesia? salah seorang peneliti bergurau sambil mengatakan, orang Indonesia suka terlambat.

Sumber

http://www.faktailmiah.com/2011/05/10/mengapa-orang-indonesia-suka-terlambat.html

Cracked Science. Language Skews Your Perception of Time.

Referensi lanjut

Lera Boroditsky Linguistic Relativity.

Joan O’C. Hamilton. You Say Up, I Say Yesterday.

Stanford.Babel’s children

Referensi jurnal

Boroditsky, L., Ham, W., Ramscar, M. What is Universal in Event Perception? Comparing English and Indonesian Speakers. 2002.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

KERUSAKAN HUTAN